Cepatlah Cepat

Cepatlah cepat wahai sahabat
Jangan sampai kau terlambat
Taubatlah taubat wahai sahabat
Jangan sampai kau tersesat

Jangan ulangi kesalahan lagi
Sesungguhnya kita akan merugi
Jangan ulangi kebodohan lagi
Sesungguhnya Allah mengetahui

****

Lirik lagu Syahrini yang judulnya “Taubatlah Taubat” terdengar membahana dari Speaker mobil Avanza yang akan membawa saya menuju Majene Sulawesi Barat dari Makasar. Diiringi gelengan kepala sang sopir berpeci haji yang terlihat sangat enjoy sama lagu tersebut, *padahal sejatinya gue juga suka. Seolah terhanyut dengan lirik pada lagu tersebut “Cepatlah Cepat, Jangan Sampai kau Terlambat”, dia pun menyetir mobil dengan cepat, kecepatan tinggi hingga 120-130 km/jam. Saya pun sport jantung dibuatnya sepanjang perjalanan.

Pemandangan pantai di kiri jalan, malam menjelang pagi yang mendung di sepanjang pantai pare-pare, subhanallah begitu indah. Setidaknya bisa menjadi sedikit pelega dikala sang sopir berpacu adrenalin di jalan raya. Di kiri sang sopir duduk seorang wanita paruh baya yang baru balik dari perjalanan panjangnya selepas berjuang menambah devisa negara selama empat tahun di Arab Saudi. Beberapa saat kemudian terdengar dia beradu argumen masalah ongkos dengan sang sopir, dengan logat campuran bahasa Mandar dengan bahasa Arab, kebayang nggak ? “Masyallah, subhanallah, ane tak ‘ada fulus, ane mau mamfus”. Yap, seperti itulah kira-kira versi lebainya. 

Perjuangan saya agar bisa naik ke mobil travel Avanza ini juga tidak mudah, ada campur tangan Allah yang banyak menolong. Sampai di pusat kota Makasar sekitar jam 2 malam saya tidak tahu lagi mau kemana. Mau menginap di hotel rasanya cuma menghabiskan uang karena nanggung, mending saya check in besok pagi. Seketika terlintas di pikiran saya langsung saja ke Sulawesi Barat, toh saya masih punya waktu dua hari untuk eksplor Sulawesi Selatan. Di tengah kebingungan sembari berjalan kaki di jalanan ibu kota Makasar pada tengah malam yang sepi, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak bersepeda motor menyapa “Kita tadi sudah sampai mana ??”

Sejenak saya terdiam seribu satu bahasa. Apa maksud pertanyaannya ?. Saya pun bertanya apakah si bapak itu tukang ojek atau bukan, jawabnya bukan. Ternyata dia cuma mau memberi tumpangan motor. Sempat ragu pada awalnya karena takut dia bukan orang baik-baik, akhirnya saya pun ikut dia. Sepanjang jalan saya selalu waspada, meneliti kira-kira ada senjata tajam atau tidak di balik telapak tangannya, siapa tau ada nyempil senjata-senjata berbahaya seperti: gergaji, kapak 212, silet, pisau cukur, dan lain-lain.   

“Kamu mau kemana ? Saya mau belok kiri, mau pulang”, tanya si Bapak. Saya pun menjawab sekenanya kalau saya mau naik bis atau travel ke Majene. Si Bapak yang baik hati memberikan tumpangan di tengah malam buta itu pun menurunkan saya di pertigaan dan menyuruh saya menunggu bus disana. Lama menunggu, tidak ada tanda-tanda kehidupan dan tidak ada tanda-tanda bus mau lewat, saya pun dibuat sedikit panik dan takut.

Ada counter HP yang sudah mau tutup, saya pun akhirnya bertanya kepada tiga orang daeng-daeng tersebut. Dia pun menjawab kalau menunggu travel ke Majene pada malam-malam seperti ini agak berbahaya, dan disini bukan tempatnya. Menunggu travel seharusnya di dekat terminal daya, yang jaraknya dari tempat itu jauh. Bak seperti guardian angel, mereka bertiga pun dengan senang hati memberikan bala bantuan.

Di tengah malam buta salah seorang mas itu memboncengi saya, sekitar hampir 45 menit naik motor. Puas, akhirnya gueh merasakan hembusan angin mamiri di malam hari pukul tiga malam,, Gilakkk !!. Bahkan sebelumnya kita berempat mampir dulu di sebuah restoran, salah seorang dari mereka yang bernama Mas Nasir membungkuskan saya makanan makasar by free. Sumpah tuh orang baik banget, lebih dari itu dia pun berkata “Kalau misal nanti di Majene butuh bantuan atau penginapan, ini nomor Hape kakak Ipar saya”. Waduh, menggiurkan tuh, nebeng gratis, wahaha. Memang benar ya kalau Allah itu selalu bersama orang yang senang jalan-jalan.

Sekarang saya masih di dalam avanza yang siap mengantarkan saya ke Majene dan Polewali. Antara ngantuk, syahdu mendengar lagu Syahrini, dan asyik mendengar wanita TKW bercakap-cakap dengan sopir. Membutuhkan waktu sekitar tujuh jam untuk sampai ke Majene. Ada apa di majene dan di Polewali ? Justru karena saya tidak tahu disana ada apa, makanya saya tertarik kesana. But above of all, first impression saya di Kota Mamiri begitu bagus. Daeng-daeng disini benar-benar seperti Guardian Angel. Next post akan saya ceritakan perkenalan dengan seorang teman yang baikkkkkkkk banget yang saya jumpai sembari naik perahu di Pantai Losari. Bersamanya kita melakukan perjalanan dan petualangan yang Unforgettable. “Herman” Namanya

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.